Jumat, 11 Maret 2011

Alur Sejarah Perkembangan MUSIK KERONCONG (Bag III)

[NC11-AM] 3 .Dari Indonesia ke Mancanegara
KERONCONG ditinggalkan masyarakat? Ternyata tidak.
Minat mereka terhadap jenis musik ini tetap besar. Menjelang akhir tahun 2005, Festival Keroncong Yogyakarta 2005, yang berlangsung hari Senen, 19 Desember di Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta, dipadati ratusan pengunjung.

Gedung peninggalan Belanda itu disesaki masyarakat yang ikut serta, maupun yang sekadar menyaksikan festival musik yang konon berasal dari Portugis itu. 300 lebih kursi yang tersedia terisi penuh. Penonton terus saja berdatangan walau ajang unjuk kebolehan bermain musik dan bernyanyi keroncong itu sudah dimulai.

Mereka yang baru tiba tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya. Begitu tiba di depan pintu masuk tempat pertunjukan, ratusan kursi sudah terisi dan puluhan manusia telah berdesakan di bagian belakang, tidak kebagian tempat duduk.

Untung panitia bertindak sigap. Begitu kelompok dengan nomor undian dua usai pentas, panitia mengajak puluhan penonton yang berdiri di barisan belakang dan di lajur antara kursi-kursi, untuk duduk persis di depan panggung alias lesehan. Puluhan orang tanpa sungkan menuruti ajakan panitia dan duduk berdesakan.
Apik, apik, pas nadanya. Ini baru mantap, ujar pengunjung yang berdiri di bagian belakang tempat pertunjukan. Ungkapan itu menunjukan asyiknya mereka menikmati sajian musik keroncong malam itu.

Pandangan mereka berbinar disertai senyuman. Asap rokok, serta panasnya suasana tempat pertunjukan akibat sesaknya penonton, tidak membuat mereka beranjak dari tempatnya masing-masing selama peserta festival beraksi menunjukan kebolehannya.

Tidak ada yang menduga sebelumnya, termasuk panitia, bahwa Festival Keroncong Yogyakarta 2005, yang sempat vakum sejak 1997 menarik begitu banyak anggota masyarakat. Benar-benar di luar dugaan. Semangat untuk bermain musik dan bernyanyi keroncong ternyata tetap menyala.

Yang juga menarik, 10 kelompok peserta festival didominasi pemusik dan penyanyi berusia muda. Hanya kelompok orkes keroncong (OK) Gita Winastu saja pemainnya berusia lanjut. Sedangkan OK Tresna Wara, Renonce, Kharisma, Gissiga, KBK 6,5, Rewo Rewo, Irama Candra, Bethesda Nada dan Citra Rhapsodia terdiri dari kaum muda, atau campuran antara tua-muda. OK Tresna Wara terpilih sebagai juara pertama, OK Citra Rhapsodia (runner-up), OK Kharisma (juara III), OK Gissiga (juara IV) dan OK Bethesda Nada (juara V). Selain tropi, mereka memperoleh dan Rp 3,5 juta sebagai dana pembinaan.

Drs Singgih Sanjaya, musisi sekaligus penyanyi keroncong kawakan, yang menjadi salah seorang anggota dewan juri bersama dua praktisi keroncong, Sri Hartati dan Andi-menyatakan optimismenya, melihat inovasi-inovasi dari peserta festival. Memang inovasi itu ada yang pas, baik dari sisi estetika maupun musikalitas, ada juga yang terkesan dipaksakan. Tetapi, semua itu tetap positif bagi perkembangan musik keroncong itu sendiri.

Keinginan membawa musik keroncong kembali meramaikan panggung pertunjukan menunjukan titik terang melalui Festival Keroncong Yogyakarta 2005. Selain bagai pelepas dahaga, ajang itu ternyata juga telah menghadirkan semangat baru untuk perkembangan musik keroncong ke arah yang lebih bervariasi dan menghibur, tanpa mengurangi esensi musiknya.

Pelestarian keroncong memang harus dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat hingga terbuka ruang apresiasi seluas-luasnya. Keroncong jangan hanya dikemas dalam pertunjukan eksklusif, karena masyarakat awam yang biasanya berapresiasi, sesuai dengan ciri keroncong sebagai seni kerakyatan yang mudah berubah mengikuti situasi dan berkembang seiring dinamika budaya masyarakat.

Hal ini diungkapkan pemusik FX Sutopo, dalam dialog musik keroncong di Taman Budaya Yogyakarta, 23 Desember 2005, 4 hari setelah festival berlangsung. Dialog itu memang merupakan kelanjutan dari Festival Keroncong Yogyakarta 2005.

Sutopo melanjutkan bahwa sebagai sebuah seni kerakyatan keroncong harus didekatkan dengan masyarakat. Sehingga, bisa muncul kembali di tengah kehidupan orang banyak seperti pesta pernikahan, khitanan atau panen padi. Namun demikian keroncong bisa juga dikembangkan melalui ajang non-lomba, supaya peserta tidak terbebani dengan berbagai syarat. Sehinga ajang itu bisa menjadi ruang kreatif yang luas, berproses secara alami tanpa beban persyaratan tertentu sebagaimana sebuah perlombaan.

Keroncong sebenarnya tidak pernah redup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalau di Yogyakarta, Solo, Semarang dan kota-kota Jawa Tengah lainnya denyut keroncong tetap terasa, walaupun kadang bergelora kadang lesu manja, begitu pula di Jawa Timur.

Sebuah komunitas pecinta keroncong berdiri bulan Oktober 2004 di Malang Pamori (Paguyuban Artis dan Musisi Orkes Keroncong Indonesia) Malang Raya, yang merupakan cabang dari Pamori Jawa Timur. Yang menarik Dan membanggakan adalah, Pamori didukung Rektor Unibraw (Universitas Brawijaya) Prof Dr Ir Bambang Guritno dan semangat Prof Dr Ir Yogi Sugito, yang sejak 1996 membidani parade musik keroncong di perguruan tingginya. Pamori Malang Raya diketuai Nur Basuki, yang juga adalah dosen Fakultas Pertanian Unibraw.

Jadi tidak heran jika hampir setiap Senin sekitar pukul 20.00 – 23.00, rumah besar Prof Dr Ir Yogi Sugito di Jalan Karet, Malang, terdengar sayup-sayup musik dan syair lagu keroncong. Suara musik itu datang dari lantai 2 yang memang khusus disediakan sebagai posko Pamori Malang Raya. Di situlah sekitar 15 anggotanya mengasah keahlian memainkan alat-alat musik khas keroncong seperti ukulele, biola, cello, gitar akustik dan seruling. Tak ketinggalan para para penyanyi juga melatih vokal bersama-sama.

“When marimba rhythm start to play, dance with me, make me sway. Like the lazy ocean, hugh to shore hold me close, sway me shore,……”, syair lagu Sway itu dinyanyikan salah satu penyanyi keroncong, Retno Suntari yang tergabung dalam Pamori Malang. Retno yang tak pernah lepas dari bunga melati di rambutnya itu menyanyikan lagu dengan riangnya. Diikuti Yogi Sugito menyanyikan My Way, Fatwa Pujangga, Pepito, dan lagunya

Setelah Pamori Jatim berediri, anggota-anggotanya langsung membentuk sektor-sektor perwakilan Pamori di sejumlah daerah seperti Kepanjen, Singosari, Turen, dan sejumlah wilayah yang siap dikembangkan musik keroncong. Harapan menjadikan musik keroncong kembali jaya seperti tahun 1940-1950-an di Malang sangat diharapkan keaktifan sekitar 12 grup orkes keroncong yang masih aktif, antara lain Gita Puspita, Gita Kusuma, Candra Kirana, Ersa Karsa Nadana dan Tirta Melody.

Harapan menghidupkan kembali keroncong dari generasi muda tetap bisa diandalkan, misalnya Pipin yang tergabung OK Irama Kelana yang dibentuk awal tahun 2004 di Solo. Pemuda berusia 30 tahun ini membawakan lagu slow-rock yang populer lewat suara penyanyi rock Achmad Albar dan Nicky Astria, Panggung Sandiwara. Tapi Pipin membawakannya dengan cengkok keroncong. Demikian juga lagu lainnya, Tragedi Buah Apel, Andaikan Kau Datang dan Gubahanku.

Lagu-lagu yang sebenarnya bukan lagu keroncong itu, ternyata tetap mengalir indah dan enak di dengar dalam iringan musik keroncong. Pipin juga memperlihatkan bahwa dia bisa membawakan lagu-lagu keroncong, stambul, dan langgam seperti Paman Tani, Senandung Tani, Dewa-Dewi, Lingsir Wengi, Sentir Lengo Potro dan Slenco.

Bermula dari keprihatinan Mbong Muryadi, mantan lurah Gajahan, Solo yang bermukim di Perumnas Palur, Kabupaten Sukoharjo, yang menyaksikan anak muda di daerahnya bermusik dengan kompak dan bagus di tepi jalan, dikumpulkan anak-anak muda itu OK Irama Kelana. Sebelumnya dia pernah mendirikan orkes keroncong semasa masih menjadi lurah. Sekitar 20 pemusik dan penyanyi dari segala usia, kebanyakan anak muda, tergabung dalam OK Irama Kelana. Mereka sudah tampil di RRI Solo, televisi serta berbagai perhelatan lainnya.

Keroncong tidak hanya bergema di atas panggung. Dalam industri rekaman juga sanggup berhadapan dengan jenis musik lain yang selama ini menguasai pasar. Lagi-lagi peranan anak muda di sini kembali menjadi siknifikan.

Musik asick, chonk melodic, seru anak-anak muda yang tergabung dalam grup musik Kornchonk Chaos.. Mereka memainkan musik dengan alat musik keroncong seperti ukulele cak, ukulele cuk, kontra bas, tapi bukan keroncong murni, itulah sebabnya dipelesetkan menjadi kornchonk.

Anggota Kornchonk Chaos yang terdiri dari mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta ini menggabungkan keroncong dengan rock, hip hop, dangdut, dan heavy metal. Keroncong menjadi pilihan dengan pertimbangan untuk mengingatkan generasinya pada budaya sendiri, ketika terbentuk pada bulan September 2001.

Ternyata mereka tidak hanya bisa beraksi di atas panggung kampus, juga melangkah ke studio rekaman dan menghasilkan album berjudul Ini Baru Musik Asick. Untuk semua itu mereka menggunakan dana dari kantong masing-masing anggota. Dari mereka yang tampaknya masih dalam taraf apresiatif dan belum berpikir secara komersial inilah sebenarnya sering muncul karya-karya krestif yang bisa menjadi tonggak di kemudian hari.

Jelas yang di lakukan Kornchonk Chaos tidak segegap-gempita Didi Kempot tahun 2002. “Terkintil-kintil, Cintaku Terkintil-kintil, Tresnaku karo kowe ora bakal tak bakal cuil-cuil,” itulah lagu campursari ciptaan Didi Kempot, lelaki kelahiran Solo, 31 Desember 1966, yang menghabiskan masa kecil di Ngawi, Jawa Timur. Anak seniman panggung Haranto alias Ranto Edi Gudel itu tumbuh ketika dangdut menjadi bagian dari realitas bunyi-bunyian sehari-hari dalam masyarakat Jawa.

Dangdut dimainkan dalam hajatan perkawinan sampai tujuh-belasan. Sebelumnya posisi itu dipegang keroncong, langgam Jawa, yang tidak lagi dominan sebagai bahan dengaran sehari-hari. Begitu pula karawitan yang tak banyak disentuh kaum muda kebanyakan.

Pemusik muda seperti Didi Kempot tergagap ketika berbicara di jagat pop. Mereka tidak seperti Rhoma Irama menemukan format dangdut, Koes Plus dan Rinto Harahap dengan pop, atau God Bless dan Nicky Astria dengan rock. Grup dan penyanyi yang kemudian berpengaruh di blantika industri rekaman ketika generasi Didi baru tumbuh.

Tanpa sadar Didi menggunakan medium keroncong, dangdut dan gamelan. Ketiga unsur yang menjadi landasannya dalam campursari yang kemudian digarapnya, menyerap juga ke lagu-lagu mandarin, rock dan latin. Campursarinya mengambil elemen musik rock, kemudian dicampur keroncong. Rock dalam campursari Didi memang cuma numpang lewat. Barangkali dengan pertimbangan orang Jawa belum bisa terima suara yang terlalu keras. Ternyata Didi, seperti, Terkintil Kintil, Stasiun Balapan dan yang lainnya diterima luas. Tidak hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, atau di tempat lain atau komunitas berbahasa Jawa di Suriname.

Didi memang bukan yang pertama menggarap campursari. Gabungan dua jenis musik atau lebih musik sudah digunakan setidaknya pada tahun 1960-an. Almarhum Ki Nartosabdo pernah merespons dangdut dengan menciptakan gending Ojo Dipleroki. Karawitan Condong Raos yang dipimpin dalang kondang itu menggunakan cengkok dangdut yang terasa lewat permainan kendang Nartosabdo.

Waljinah dengan orkes Bintang Surakarta berikut pencipta lagu Anjar Ani, tanpa berpretensi untuk bercampursari, di awal 1970-an telah memadu langgam Jawa dengan musik pop. Mereka menggunakan organ Farfisa dan menyandingkannya dengan instrumen yang lazim digunakan dalam keroncong seperti ukulele dan cello.

Berkembangnya musik campursari, menurut Waldjinah, adalah salah satu hasil perkembangan keroncong. Baginya, campursari bukanlah jenis musik yang menyisihkan keberadaan keroncong, tetapi justru memperkaya. Dia juga berharap, pemilihan bintang radio untuk jenis musik keroncong diadakan kembali, akan sangat membantu kejayaan keroncong.

Waljinah melanglang buana dengan Walang Kekek-nya, “Walang kekek mabur neng sawah, Mabur maneh mencok wit jati, Nduwe bojo enom atine susah, Bojo tuwek watuke ngekek kesel mijeti (Walang kekek terbang di sawah, Terbang lagi hinggap di pohon jati, Punya suami muda di hati susah, Suami tua batuknya menggigil capai memijat)

Campursari adalah formula sinkretisme, Jawa dalam musik. Benci Tapi Rindu karya Rinto Harahap menjadi Sengit Ananging Kangen oleh Koko Thole. Campursari menarik karena mampu tumbuh sebagai industri. Geliat ini tentu saja mengekspresikan bahwa keroncong itu sebenarnya luwes dan bisa bergaul dengan jenis musik lainnya.

Pemusik Yogyakarta Djaduk Ferianto bersama kelompoknya Musik Katebe (Kelompok Taman Budaya) Yogyakarta juga tidak mau ketinggalan, dia meluncurkan lagu-lagu keroncong kreatif, Model dan Ngetrend yang diproduksi PT Gema Nada Pertiwi Jakarta tahun 1999.

Kalau selama ini ada yang disebut sebagai langkah pembaruan dalam musik keroncong, banyak diantaranya adalah hanya lagu pop yang dikeroncongkan.

Sedangkan apa yang disuguhkan Model dan Ngetrend terasa roh musik keroncongnya, diantara elemen musik jazz, dangdut dan rock yang menjadi campurannya.

Usaha Djaduk tidak berhenti sampai di Musik Katebe saja, tahun 2002 dia membentuk Orkes Sinten Remen, yang tampil Graha Bhakti Budaya TIM (Taman Ismail Marzuki), 5 Juli 2002 dengan judul Pertoendjoekan Hiboeran. Penonoton yang menjejali 900 kursi bergeming selama dua setengah jam. Di luar pintu masuk gedung pertunjukan, penonton disodori penawaran kaset Orkes Sinten Remen yang materi lagunya dijadikan bahan baku utama pertunjukan di dalam gedung.

Jelas konsep musiknya adalah keroncong. Hanya saja Djaduk memasukkan unsur-unsur irama musik lain yang telah akrab dengan telinga anak muda, yakni musik reggae, jazz, country, juga samba. Kekayaan tetabuhan keroncong seperti keroncong stambul, keroncong langgam, keroncong moresko dan keroncong tugu dalam Orkes Sinten Remen unsur-unsurnya menjadi dasar utama. Walaupun yang kedengaran dominan musik jaman sekarang yang dikenal anak muda. Di tengah pendekatan country, reggae, dan jazz, dimainkan dengan alat musik pendukung seperti kendang dan drum, identitas keroncong tetap nyata kehadirannya.

Sinten Remen memang kemudian menjadi funky, berdarah anak muda, cool, smart bersama Gareng, Petruk, Bagong dan keroncong. Kalau selama ini keroncong di RRI Yogyakarta untuk pendengar usia tua, diputar di waktu siang yang sedang terik atau di tengah malam yang dingin, Sinten Remen justru memperoleh dukungan rokok Djarum 76 beraksi di acara televisi Pasar Rakyat.

Tentang idenya yang tidak orisinal dan mengulangi apa yang pernah dilakukan tahun 1970-an oleh OM (Orkes Madun) PSP (Pancaran Sinar Petromaks), Djaduk menjawab dengan santai, “Memang harus kami akui kami mengambil PSP dan Jamrud, tidak meniru melainkan untuk referensi. Sebagai referensi kami juga mempelajari penyanyi pop Katon Bagaskara, grup Sheila on 7, penyanyi Agnes Monica, pencipta lagu Papa T Bob, penyanyi anak-anak Sherina dan Joshua”.

Intinya, apa atau siapa sih yang tidak saling mempengaruhi dalam kesenian?

Keberlanjutan musik keroncong memang perlu dilakukan dengan mengadakan pendekatan pada musik yang sesuai dengan zamannya. Salah satunya adalah dengan memasukkan unsur musik lain yang digemari generasi muda saat ini.

Pendekatan yang dilakukan Hetty Koes Endang selama ini adalah mengkroncongkan lagu yang sedang populer. Dengan cara itu dia dianggap sebagai ratu-keroncong di Malaysia dan Jepang. Kaset keroncongnya laris dan dengan honor yang menggiurkan penyanyi lainnya, setiap tahun diundang melintas batas menghibur penggemarnya di negara-negara itu.

Hetty adalah penyanyi Indonesia yang berpenghasilan paling banyak lewat suaranya. Pada tahun 1990, dia mampu mengumpulkan penghasilan Rp 120 juta / bulan hanya dari atas panggung (Kompas, 19 Agustus 8 1990). Sementara menurut majalah Jakarta Jakarta (No 430, Oktober 1994) untuk satu kali naik ke pentas, tarif Hetty tidak kurang dari 35.000 dollar Malaysia atau Rp 28 juta (berdasarkan kurs waktu itu). Tentu saja semua itu tidak terlepas dari lagu-lagu keroncong yang dibawakannya.

Sampai akhir tahun 2005, Hetty yang berangkat sebagai penyanyi pop justru diakui eksistensinya sebagai penyanyi keroncong kembali mengkroncongkan lagu yang sedang populer, yaitu Ada Apa Denganmu. Lagu dari grup yang sedang populer Peterpan itu, kaset popnya terjual sampai 2 juta keping.

Berkat keroncong, 29 Juli 1996 Hetty menerima penghargaan Citra Adhikarsa Budaya, 24 tahun setelah penghargaan yang pertama diterimanya sebagai juara Festival Lagu Pop Remaja 1972 di Bandung. Berkat keroncong Hetty tampil di berbagai event musik di Jepang, Hongkong, Cina daratan dan Malaysia. Sejak tahun 1994 penampilannya sudah diproduksi saluran televisi khusus musik MTV, televisi Jepang dan RRC.
Kalau di Jepang Bengawan Solo tidak pernah ketinggalan dibawakan Hetty, sementara di Shanghai lagu yang disukai adalah Dayung Sampan. Hingga 2005, Hetty telah merekam sekitar 150 lagu dalam irama keroncong yang diedarkan puluhan judul kaset dan CD. Pony Canyon yang berkantor di Singapura khusus menangani rekaman lagu-lagu keroncong Hetty di luar Indonesia.

Musik keroncong sering memperoleh perhatian dari musisi dan industri rekaman musik mancanegara. Mereka menilai keroncong punya nilai lebih sebagai musik Indonesia. Musisi Eugene Bick dari Family Man Indianapolis . Amerika Serikat pada tahun 1996 sempat bermaksud memproduksi keroncong untuk konsumsi penggemar musik di negerinya.

Bick menjelaskan, masyarakat Amerika amat mendambakan bentuk-bentuk kesenian yang punya keunikan, keroncong selain mengambil bentuk musik Barat yang komunikatif juga menyajikan harmoni yang khas Timur. Terutama unsur cengkok dalam musik keroncong merupakan sesuatu yang tak terdapat dalam musik Barat.

Tanpa menggunakan kata musik, keroncong sudah cukup jelas mewakili bahwa inilah musik artistik penduduk kepulauan rumpun Melayu bernama Indonesia, dengan pola ritme gitar pengiring, ukulele, cello yang dipetik merupakan ciri khas gamelan dan musik gendang Melayu. Falsafah gamelan Bali, Jawa, Sunda dan gendang Melayu jelas dianut keroncong. Biola yang membawakan tema lagu, diikuti instrumen lainnya yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya melalui adaptasi naluri serta timbang rasa, yang tidak lazim dalam musik Barat.

Itulah kekuatan keroncong yang sekarang menjadi made in Indonesia dan dikagumi dunia internasional karena berpegang teguh pada kaidah-kaidah adiluhung mempertahankan keaslian estetika musikalitasnya.
<<<Back                                                                                                                             Lanjutkan>>>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...